- Timbang ± 0,5 gram sampel garam tunjung FeSO4 . 7H2O
- Masukkan ke dalam piala gelas 400 ml, bilas dan larutkan dengan air suling sebanyak 25 ml.
- Tambahkan 5 ml HNO3 4N
- Larutan di didihkan dengan api kecil selama ± 10 menit
- Uji dengan 1 - 2 tetes NH4OH 2N. bila terbentuk endapan merah kecoklatan menunjukkan bahwa Fe (II) telah menjadi Fe (III). Bila terbentuk endapan hitam kehijauan Fe (II) belum menjadi Fe (III), sehingga harus ditambahkan lagi NHO3 4N sebanyak 5 ml, didihkan dan uji kembali.
- Tambahkan air suling hingga 100 ml.
- Panaskan larutan 700C – 800C (termometer)
- Tambahkan 15 ml NH4Cl 2N
- Tambahkan NH4OH 2N berlebih (larutan induk jernih)
- Larutan saring dengan kertas saring “pita merah” / 541/41(whatman), enaptuangkan, cuci dengan air panas hingga endapan bebas dari pengotor klorida dan sulfat
- Endapan dikeringkan di lemari pengering
- Endapan dimasukkan kedalam cawan porselin yang sudah diketahui bobotnya.
- Endapan diperarang dengan pembakar teklu
- Endapan dipijarkan/diabukan dengan pembakar meker/tanur.
- Dinginkan dalam desikator dan ditimbang.
- Pemanasan, pemijaran, pendinginan dan penimbangan diulangi beberapa kali hingga dicapai bobot tetap.
Tampilkan postingan dengan label Analisis Gravimetri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis Gravimetri. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 April 2013
PENETAPAN KADAR BESI DALAM GARAM TUNJUNG (FeSO4 . 7H2O)
TEORI
Besi dari larutan garam tunjung (FeSO4 . 7H2O), dapat diendapkan sebagai besi (II) hidroksida, akan tetapi basa ini tidak mantap dan mudah teroksidasi menjadi besi(III), sehingga bila dipijarkan sisa pijarnya tidak murni sebagai FeO. Oleh karena itu besi harus diendapkan sebagai besi(III)hidroksida. Sebagai pengoksidasi dapat dipakai HNO3, H2O2 atau air brom.
Sebenarnya HNO3 kurang baik karena mudah terjadi kopresipitasi. pH pengendapan tidak boleh terlalu tinggi untuk menghindari pengendapan hidroksida lain terutama bila contoh alam yang biasanya mengandung Mg, sehingga dapat mengendap sebagai Mg(OH)2. Oleh karena itu ditambahkan NH4Cl 10 % sebagai pendapar. Pengendapan dilakukan pada suhu 70-80 0C untuk mendapatkan jel/selai yang baik.
DASAR
Garam besi(II) yang tidak mantap dioksidasikan dengan HNO3, air brom atau hidrogenperoksida menjadi Fe(III) yang mantap. Kemudian Fe(III) diendapkan dengan NH4OH menjadi Fe(OH)3, endapan selai berwarna cokelat yang setelah dipijarkan menjadi Fe2O3 yang berwarna hitam-cokelat.
REAKSI :
2HNO3 --> H2O + 2NO + 3O
6FeSO4 + 6HNO3 + 3O --> 2Fe2(SO4)3 + 2Fe(NO3)3 + 3H2O
2Fe2(SO4)3 + 2Fe(NO3)3 + 18NH4OH --> 6Fe(OH)3 + 6(NH4)2SO4 + 6NH4NO3
6Fe(OH)3 --> 3Fe2O3 + 9H2O
PERALATAN:
a. Neraca
b. Kaca arloji
c. Sendok sampel (Spatula)
d. Piala gelas 400 ml.
e. Piala gelas 800ml.
f. Tutup kaca besar
g. Pengaduk kaca
h. Pengaduk berkaret/policeman
i. Labu semprot kaca
j. Corong
k. Tabung reaksi
l. Cawan porselin
m. Segitiga porselin
n. Kasa asbes
o. Kaki tiga
p. Penyangga corong
q. Pembakar teklu
r. Pembakar meker atau tanur
s. Lemari pengering (oven)
t. Termometer
BAHAN
Sampel Garam Tunjung (FeSO4 . 7H2O)
PEREAKSI
a. HNO3 4 N / H2O2 3 % / Air Brom
b. NH4OH 10 %
c. BaCl2 0,5 N
d. Kertas saring No. 41 Whatman
e. Air suling
f. NH4Cl (10 %)
g. AgNO3 0,1 %
CARA KERJA
Senin, 15 April 2013
PENETAPAN KADAR TEMBAGA DALAM TERUSI (CuSO4 . 5H2O)
TEORI
Tembaga
dari garam tembaga (II) dapat diendapkan sebagai tembaga(II) hidroksida.
Endapan ini dapat larut dalam NH4OH berlebihan sebagai garam
kompleks [Cu(NH3)4]2+ oleh karena itu
pengendapan dengan NaOH atau KOH. Untuk menghindari hidrolisis ion Cu2+
menjadi Cu(OH)2, sebelum pendidihan larutan CuSO4 harus diasamkan
dengan H2SO4
CuSO4
+ H2O à
Cu(OH)2 + H2SO4
DASAR
Larutan
garam tembaga (II) panas diendapkan dengan larutan basa kuat (NaOH/KOH),
menjadi endapan Cu(OH)2 yang berwarna biru, setelah
dipanaskan memecah menjadi CuO yang berwarna hitam kecoklatan.
REAKSI
:
CuSO4
+ 2NaOH à Cu(OH)2
+ Na2SO4
Cu(OH)2
à CuO
+ H2O
PERALATAN:
a.
Neraca
b.
Kaca arloji
c.
Sendok sampel (Spatula)
d.
Piala gelas 400 ml.
e.
Piala gelas 800ml.
f.
Tutup kaca besar
g.
Pengaduk kaca
h.
Pengaduk berkaret/policeman
i.
Labu semprot kaca
j.
Corong
k.
Tabung reaksi
l.
Cawan porselin
m. Segitiga
porselin
n.
Kasa asbes
o.
Kaki tiga
p.
Penyangga corong
q.
Pembakar teklu
r.
Pembakar meker atau tanur
s.
Lemari pengering (oven)
BAHAN
Sampel
Terusi (CuSO4 . 5H2O)
PEREAKSI
a. NaOH
4N /
KOH 4N
b. H2SO4
4N
c. BaCl2
0,5N
d. Kertas
saring No. 41 Whatman
e. Kertas
lakmus merah
f. Air
suling
CARA
KERJA
1. Timbang
± 0,5 gram sampel garam terusi
2. Masukkan
ke dalam piala gelas 400 ml, bilas dan larutkan dengan air suling sebanyak 100
ml.
3. Tambahkan
beberapa tetes H2SO4 4N
4. Larutan
di didihkan
5. Tambahkan
NaOH 4N sedikit demi sedikit sampai berlebih.
6. Uji
pengendapan sempurna
-
Cairan jernih diuji dengan kertas
lakmus merah (warna kertas lakmus merah berubah biru).
-
Cairan jernih ditetesi 1 – 2 tetes
pereaksi pengendap tidak terbentuk endapan lagi.
7. Endapan
disaring dengan kertas saring “pita hitam/541/41, dienaptuangkan, dicuci dengan
air suling hingga bebas dari pengotor basa (uji basa) dan sulfat (uji sulfat)”
Uji basa : Saringan setelah beberapa kali pencucian,
diteteskan ke lakmus merah. Bila lakmus merah tetap merah berarti basa sudah
hilang.
Uji sulfat : Sediakan 2 (dua) tabung reaksi. Ke dalam
tabung I tampung ¼ - 1/3 volume saring, panaskan di atas teklu, asamkan 1-2
tetes HCl 4 N. Ke dalam tabung II masukkan 1-2 tetes BaCl2 0,5 N,
panaskan. Tuangkan isi tabung II ke dalam tabung I dan bila terbentuk endapan
putih berarti SO4 sudah bebas.
8. Endapan
dikeringkan di lemari pengering
9. Endapan
dimasukkan kedalam cawan porselin yang sudah diketahui bobotnya.
10. Endapan
diperarang dengan pembakar teklu
11. Endapan
dipijarkan/diabukan dengan pembakar meker/tanur.
12. Dinginkan
dalam desikator dan ditimbang.
13. Pemanasan,
pemijaran, pendinginan dan penimbangan diulangi beberapa kali hingga dicapai
bobot tetap.
PERHITUNGAN
:

PENGENDAPAN
Pengendapan adalah proses
membentuk endapan yaitu padatan yang dinyatakan tidak larut dalam air walaupun
endapan tersebut sebenarnya mempunyai kelarutan sekecil apapun. Prosedur
analisis menentukan jumlah pereaksi yang digunakan atau ditambahkan kedalam
sampel/analat agar terbentuk endapan. Dalam kasus dimana jumlah pengendap tidak
disebutkan, biasanya dapat dilakukan estimasi kasar dengan cara perhitungan
sederhana yang melibatkan konsentrasi pereaksi dan perkiraan berat
zat/konstituen yang ada. Biasanya disarankan pemakaian pengendap berlebih
karena kelarutan endapan-endapanberkurang atau menurun, yang disebabkan oleh
efek ion yang sama (common – ion effect). Kelebihan pengendap yang banyak tidak
diinginkan, bukan saja karena pemborosan pereaksi tetapi juga karena endapan
dapat cenderung melarut kembali dalam kelebihan pereaksi yang banyak, membentuk
ion rangkai (kompleks). Sebagai contoh, senyawaan perak diendapkan dengan
senyawa klorida dan endapan menjadi lebih, tidak dapat larut bila terdapat
cukup kelebihan klorida, tetapi kelebihan klorida yang besar melarutkan endapan
tadi :
Ag Cl
+ 2Cl¯ ®
Ag Cl3 2¯
Secara umum, bila tidak
ditentukan, dapat digunakan atau ditambahkan 10% kelebihan pengendap. Dalam
semua hal, cairan supernatan atau saringan (filtrat) harus diuji untuk
mengetahui kesempurnaan endapan dengan menambahkan sedikit penambahan jumlah
pengendap.
Hal yang utama dalam
analisis gravimetri ialah pembentukan endapan yang murni dan mudah disaring .
Pengendapan mulai terjadi
dengan terbentuknya sejumlah partikel kecil yang disebut inti-inti (nukla) bila
ketetapan hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawaan dilampaui. Partikel-partikel
kecil ini ukurannya akan membesar dan akan mengendap kedasar wadah.
Partikel-partikel yang relatif besar ini seringkali lebih murni dan lebih mudah
disaring. Pada umumnya ukuran partikel meningkat mencapai ukuran maksimum dan
kemudian berkurang bila konsentrasi pereaksi pereaksi dinaikkan. Diketahui
bahwa makin kecil kelarutan suatu endapan maka semakin kecil ukuran
partikelnya. Tetapi ketentuan ini merupakan aturan kasar atau tidak mutlak
sebagai contoh perak klorida (AgCl) dan bariumsulfat (BaSO4)
mempunyai kelarutan molar yang sama (Ksp sekitar 10¯10 tetapi
partikel bariumsulfat jauh lebih besar daripada perak klorida bila digunakan
kondisi pengendapan yang serupa. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan
kelarutan ialah :
-
suhu
-
pH
-
pemakaian
zat pengkompleks
Pengendapan sangat umum
dilakukan pada suhu tinggi, dengan alasan bahwa garam dari asam lemah seperti
kalsiumoksalat (CaC2O4) dan seng sulfida (ZnS) lebih baik
bila diendapkan dalam suasana asam lemah daripada suasana basa. Bariumsulfat
akan lebih baik diendapkan dalam larutan asam klorida 0,01 M sampai dengan 0,05
M karena kelarutan akan meningkat dengan terbentuknya ion hidogensulfat (HSO4-).
Setelah endapan terbentuk
kadang-kadang perlu dilakukan pencernaan (digestion) atau penuaan (aging)
artinya endapan tersebut dibiarkan bersentuhan atau kontak dengan larutan induk
(mother liquor), biasanya pada suhu yang ditinggalkan sebelum penyaringan
dilakukan.
Partikel-partikel kecil
dari endapan berbentuk kristalin seperti BaSO4, lebih dapat larut
dibandingkan partikel-partikel besarnya yang mengakibatkan larutan tersebut
lewat jenuh terhadap partikel besar. Untuk meningkatkan ukuran partikel dari
kecil menjadi besar seperti pada endapan kristalin BaSO4, dilakukan
proses pemasakan (ripening). Pemasakan ini dapat dilakukan diatas
penangas air (water bath) dimana wadah beserta endapan disimpan diatasnya
selama 30 – 60 menit. Endapan selai (gelatin) seperti besi (III) hidroksida
tidak dicerna (digest) karena endapan kecilnya tidak begitu berbeda dengan
endapan besarnya sehingga tidak terjadi peningkatan ukuran yang berarti. Untuk
memperoleh endapan dengan partikel berukuran besar, pengendapan dilakukan
dengan menambahkan perlahan-lahan larutan encer pengendap. Endapan kristalin
biasanya dicernakan pada suhu yang dinaikan sebelum penyaringan yang bertujuan
untuk makin meningkatkan ukuran partikel.
Pada waktu proses
pengendapan suatu endapan, dapat terjadi suatu zat yang biasanya dapat larut
akan terbawa mengendap dan peristiwa ini disebut kopresipitasi. Sebagai
contoh suatu larutan barium klorida yang mengandung sedikit ion nitrat dan
kedalam larutan ini ditambah pengendap asamsulfat maka endapan bariumsulfat
akan mengandung barium nitrat. Hal ini diistilahkan nitrat tersebut
dikopresipitasi bersama sulfat.
Kopresipitasi dapat
terjadi karena terbentuknya kristal campuran atau oleh adsorpsi ion-ion selama
proses pengendapan. Kristal campuran ini memasuki kisi kristal endapan,
sedangkan ion-ion yang teradsorpsi ditarik kebawah bersama-sama endapan pada
proses koagulasi.
A.1 Endapan Kristalin
Pada waktu pembentukan
endapan kristalin seperti bariumsulfat, ketidakmurnian teradsorpsi sewaktu
partikel-partikel endapan masih kecil. Ketika partikel tersebut membesar dapat
terjadi pengotor tersebut berada/masuk dalam kristal. Pengotoran jenis ini
disebut oklusi. Kopresipitasi dapat dikurangi tetapi tidak dapat
dihilangkan sama sekali, dengan cara penambahan kedua pereaksi itu?. Bila
diketahui bahwa sampel atau pengendap mengandung ion pengotor maka larutan ini
dapat ditambahkan kepada larutan yang lain. Dengan demikian konsentrasi
pengotor dapat dijaga agar minimum pada tahap-tahap awal presipitasi.
Kemurnian suatu endapan
kristalin dapat ditingkatkan dengan jalan disaring, dilarutkan kembali (ulang)
dan kemudian diendapkan kembali. Hal ini dapat dilakukan bila endapan tersbut
mudah dilarutkan. Tetapi endapan bariumsulfat yang tidak mudah dilarutkan
kembali, kemurniannya dapat ditingkatkan engan proses penuaan atau pencernaan.
A.2 Endapan selai/gelatin
Partikel-partikel endapan
selai jumlahnya lebih banyak dan jauh lebih kecil ukurannya dibandingkan
partikel endapan kristalin. Karena kecil maka luas permukaan pada larutannya
sangat besar/luar biasa besarnya. Keadaan seperti ini mengakibatkan
teradsorpsinya air dalam jumlah relatif besar. Hal ini menyebabkan endapan
tersebut mirip gelatin dan adsorpsi ion-ion lainnya sangat ekstensif.
Partikel-partikel endapan selai tidak mudah tumbuh menjadi besar dan pengotor
tidak akan masuk kedalam endapan tapi akan terikat pada permukaan
partikel-partikel kecil tadi.
Ion-ion hidrogen dan
hidroksida mudah teradsorpsi oleh endapan selai seperti Fe(OH)3 dan
Al(OH)3.
Besi (III) hidroksida
bermuatan positif pada pH ñ
8,5 tetapi bermuatan negatif pada pH lebih tinggi dari itu. Untuk meningkatkan
kemurnian endapan selai dapat dilakukan dengan pencucian atau pengendapan
ulang. Proses pencernaan tidak berguna karena endapan selai tersebut sedikit
sekali dapat larut sehingga partikel-partikelnya tidak terlalu cenderung tumbuh
untuk membesar.
A.3 Pengendap
Pengendap yang digunakan
umumnya zat anorganik walaupun pada beberapa penetapan digunakan zat organik
sebagai pengendap.
Pengendap anorganik
biasanya berupa basa, asam atau garamnya. Basa yang sering dipakai adalah
amonia (larutan gas amoniak dalam air), NaOH atau KOH. Endapan yang terbentuk
berupa hidroksida yang akan berubah menjadi oksidanya bila bentuk pertama dipijarkan.
Pemakaian pengendap selalu berlebihan untuk mendapatkan pengendapan sempurna
tetapi dapat terjadi bahwa hidroksida yang mengendap mula-mula akan larut dalam
basa pengendap berlebih. Sebagai contoh, endapan Cu(OH)2 dapat larut
dalam NH4OH sehingga yang terakhir ini tidak dapat digunakan sebagai
pengendap untuk memperoleh endapan Cu(OH)2. Pereaksi yang tepat
adalah NaOH. Sebaliknya endapan Al(OH)3 akan larut dalam basa kuat,
NaOH atau KOH. Endapan Zn(OH)2 akan larut dalam basa lemah (NH4OH)
atau basa kuat (NaOH/KOH), jadi senyawaan seng harus diendapkan dengan suatu
garam misalnya (NH4)2HPO4. Senyawaan barium
dapat diendapkan dengan H2SO4 sehingga membentuk endapan
BaSO4. Pengendapan BaSO4 dapat dilakukan dengan memakai
Na2SO4 (garam) sebagai pengganti asam sulfat. Endapan
perak klorida juga terbentuk bila pengendap NaCl ditambahkan kedalam suatu
larutan garam perak.
Secara umum endapan yang
berbentuk hidroksida akan terurai bila dipijarkan pada suhu tinggi membentuk
oksidanya yang kemudian ditimbang (bobot tetap). Endapan seperti BaSO4
relatif sukar terurai pada suhu tinggi tetapi akan tereduksi bila ada zat
pereduksi seperti C atau H2. Pereduksi C diperoleh dalam kertas
saring yang dipakai sebagai penyaring.
Sejumlah ion logam dapat
diendapkan dengan pereaksi organik. Zat organik seperti ¥ - hidroksi – kuinolina [¥ - kuinolinolina atau oxine (oksina)]
membentuk senyawaan yang mengendap dengan ion-ion logam seperti alumunium,
besi, seng, tembaga, zirkonium dan sebagainya. Zat ini hampir tak dapat larut
dalam air dan bila akan dipakai sebagai pengendap maka harus dilarutkan dalam
suatu pelarut organik tertentu seperti asamasetat atau metanol.
Rumus oksina : C9H7OH
Selain oksina, zat organik
lainnya yang digunakan sebagai pengendap ialah dimetilglioksima, yang rumusnya
:
CH3 - C = NOH
I
CH3 - C = NOH
Pereaksi ini dengan
senyawaan nikel membentuk endapan merah N1(C4H7N2O2)2.
Ion-ion pengganggu misalnya Fe3+, Al3+,B3+
yang dapat dicegah dengan menambahkan senyawaan organik tertentu (sitrat atau tartrat)
Dimetilglioksima hanya sedikit larut dalam air, maka biasanya dipakai larutan
1% dalam etanol. Senyawaan tembaga dapat diendapkan dengan pereaksi benzoin a - oksina (kupron) yang membentuk
endapan hijau
Rumus zat ini :
C6H5 - CH = OH
I
C6H5 -
C = NOH
Benzoin a - oksina sangat sedikit dapat larut
dalam air tetapi mudah larut dalam etanol. Pereaksi yang dipakai adalah larutan
2% dalam etanol.
GRAVIMETRI
Gravimetri termasuk analisis jumlah cara konvensional. Sebenarnya ada gravimetri dengan cara instrumental yaitu elektrogravimetri. Dalam gravimetri (Gravity = berat) penentuan jumlah zat berdasarkan pada pengukuran berat (penimbangan). Selain penimbangan sampel dilakukan pula penimbangan hasil reaksi, baik berupa endapan atau gas yang terjadi.
Berdasarkan dasar dan cara pemisahan, gravimetri dibagi menjadi :
1. Cara pengendapan.
Pada cara ini sejumlah sampel dilakukan dengan pereaksi tertentu zat yang akan ditetapkan (analat) diendapkan.
Endapan yang terjadi kemudian ditetapkan bobotnya, dari kedua bobot dan faktor tertentu kadar zat dapat dicari. Cara ini paling banyak dilakukan.
2. Cara penguapan.
Pada cara ini sampel direaksikan sehingga dihasilkan suatu gas atau dapat juga dipanaskan sehingga memecah menghasilkan gas. Penimbangan gas yang keluar dapat secara langsung yaitu diserap oleh suatu pereaksi terlebih dahulu atau secara tidak langsung yaitu penimbangan analat sebelum dan sesudah reaksi. Cara ini kadang-kadang dinamakan cara evolusi.
3. Cara Elektrogravimetri.
Seperti dikatakan diatas, cara ini sebenarnya termasuk cara instrumental. Pada cara ini sampel diendapkan dengan elektrolisis dengan potensial tertentu. Cara ini banyak digunakan untuk menentukan kadar logam Cu dan Zn yang akan dibicarakan pada praktikum Kimia Fisika / Analisis Instrumental.
Tahapan Pengerjaan Analisis Gravimetri secara Umum
Pelaksanaan pengerjaan Analisis Gravimetri di laboratorium merupakan rangkaian pekerjaan yang dapat dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Persiapan sampel
2. Penimbangan sampel
3. Pelarutan sampel
4. Pengendapan
5. Penyaringan
6. Pencucian
7. Pengabuan
8. Penimbangan sisa pijar
Dalam pelaksanaannya mungkin terjadi pengurangan atau penambahan tahap kerja di atas, misal pada khromat, barium khromat tidak perlu pemijaran tetapi cukup dengan pengeringan saja.











